Jumat, 27 Mei 2016



Pengertian Linguistik Terapan
Kata linguistik (linguistics-Inggris) berasal dari bahasa Latin “lingua” yang berarti bahasa. Dalam bahasa Perancis “langage-langue”; Italia “lingua”; Spanyol “lengua” dan Inggris “language”. Akhiran “ics” dalam linguistics berfungsi untuk menunjukkan nama sebuah ilmu, yang berarti ilmu tentang bahasa, sebagaimana istilah economics, physics dan lain-lain.  
Menurut Pringgodigdo dan Hasan Shadili, sebagaimana dikutip oleh Mansoer Pateda, “linguistik adalah penelaahan bahasa secara ilmu pengetahuan”. Sedangkan AS Hornby membagi kata linguidtics ke dalam dua kategori, sebagai kata sifat dan kata benda. Linguistics sebagai kata sifat berarti “the study of language and languages”.
Sedangkan linguistics sebagai kata benda, berarti “the science of language; methods of learning and studying languages”. Dengan demikian, linguistik menurut AS Hornby berarti ilmu bahasa atau metode mempelajari bahasa.
Sedangkan Kata Terapan/menerapkan, berpadanan dengan to apply, yang Artinya Memakai atau Menggunakan bisa juga dimaknai Menginjak, Mempergunakan, dan mengerahkan. Makna kata Applied = put to practical use. Dari kata applied lahir gabungan kata applied linguistic yang sepadan dengan linguistic terapan (ilmu lugah al-tatbiqy). Namun Ada pula ahli linguis yang tidak setuju dengan istilah itu, Spolsky lebih setuju dengan istilah educational linguistic (linguistic Pendidikan).
Jadi bisa di simpulkan bahwa linguistik terapan adalah pemanfaatan pengetahuan tentang alamiah bahasa yang dihasilkan oleh peneliti bahasa yang dipergunakan untuk meningkatkan keberhasilgunaan tugas-tugas praktis yang menggunakan bahasa sebagai komponen inti.
Sejarah Linguistik Terapan
Istilah linguistik terapan mengacu pada berbagai kegiatan yang melibatkan beberapa hal yang terkait dengan pemecahan masalah bahasa atau menangani beberapa kekhawatiran terkait bahasa. Ia seolah-olah diterapkan linguistik, setidaknya di Amerika Utara, pertama secara resmi diakui sebagai kursus independen di University of Michigan pada tahun 1946.
Selama akhir 1950-an dan awal 1960-an, penggunaan istilah ini secara bertahap diperluas dengan memasukkan apa yang kemudian dirujuk ke terjemahan otomatis. Pada tahun 1964 setelah dua tahun bekerja persiapan dibiayai oleh Dewan Eropa, Association Internationale de Linguistique Appliquée (Asosiasi Internasional Linguistik Terapan biasanya disebut oleh Perancis AILA singkatan) didirikan dan kongres internasional pertama yang diadakan di Nancy, Perancis.
Makalah untuk kongres itu diminta dalam dua alur pengajaran bahasa asing yang berbeda dan terjemahan otomatis. Selama bertahun-tahun, dengan fokus perhatian terus memperluas. pengurus AILA menggambarkan diterapkan linguistik “sebagai sarana untuk membantu memecahkan masalah-masalah tertentu dalam masyarakat.
Linguistik diterapkan berfokus pada berbagai daerah dan kompleks dalam masyarakat di mana bahasa memainkan peran Tampaknya terdapat konsensus bahwa tujuannya adalah untuk menerapkan temuan dan teknik dari penelitian dalam linguistik dan disiplin terkait untuk memecahkan masalah praktis.
Selain pengajaran bahasa asing dan terjemahan mesin, sampling sebagian isu-isu yang dianggap penting bagi bidang linguistik diterapkan saat ini termasuk topik-topik seperti bahasa untuk tujuan khusus (misalnya bahasa dan masalah komunikasi yang berkaitan dengan penerbangan, gangguan bahasa, hukum, kedokteran, ilmu ), kebijakan dan perencanaan bahasa, dan bahasa dan masalah keaksaraan.
Di Britania Raya, sekolah pertama linguistik diterapkan diperkirakan telah dibuka di tahun 1957 di Universitas Edinburgh dengan Ian Catford sebagai Kepala. Di Amerika Serikat, sebuah organisasi pendidikan nirlaba, yang Pusat Linguistik Terapan (CAL), didirikan pada tahun 1959 dengan Charles Ferguson sebagai Direktur yang pertama.
CAL misi tetap untuk ‘mempromosikan studi bahasa dan untuk membantu orang dalam mencapai pendidikan, pekerjaan, dan sosial tujuan mereka melalui komunikasi yang lebih efektif’. Organisasi melakukan misinya dengan mengumpulkan dan menyebarkan informasi melalui berbagai tempat transaksi yang sudah beroperasi, dengan melakukan penelitian praktis, dengan mengembangkan materi praktis dan pelatihan individu seperti guru, administrator, atau spesialis sumber daya manusia untuk menggunakan ini untuk mengurangi hambatan yang membatasi kemahiran bahasa dapat berpose untuk budaya dan bahasa beragam individu ketika mereka mencari dan efektif partisipasi penuh dalam pendidikan atau peluang kerja.
Sedangkan sejarah Linguistik Terapan di Indonesia, hingga saat ini studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.
Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Pendidikan formal linguistik di fakultas sastra (yang jumlahnya juga belum seberapa) dan di lembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun lima puluhan masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif.
Perubahan baru terjadi, lebih tepat disebut perkenalan dengan konsep-konsep linguistik modern. Pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI).
Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga penelitian kebahasaan. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Objek Kajian Linguistik Terapan
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa objek kajian linguistik terapan tidak lain adalah bahasa, yakni bahasa manusia yang berfungsi sebagai sistim komunikasi yang menggunakan ujaran sebagai medianya; bahasa keseharian manusia, bahasa yang dipakai sehari-hari oleh manusia sebagai anggota masyarakat tertentu, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan an ordinary language atau a natural language. Ini berarti bahasa lisan (spoken language) sebagai obyek primer linguistik, sedangkan bahasa tulisan (written language) sebagai obyek sekunder linguistik, karena bahasa tulisan dapat dikatakan sebagai “turunan” bahasa lisan.
Sementara itu, Ferdinand De Saussure (1857-1913), -seorang ahli linguistik kebangsaan Swiss yang dianggap sebagai bapak linguistik modern- menegaskan bahwa objek linguistik mencakup “langage, langue dan parole”. Langage (Inggris; Linguistic disposition) adalah bahasa pada umumnya, seperti dalam ungkapan “manusia mempunyai bahasa, sedangkan hewan tidak mempunyai bahasa”. Langue (Inggris; language) berarti bahasa tertentu seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Indonesia dan lain-lain. Sedangkan parole (Inggris; speech) berarti logat, ucapan atau tuturan.
Sebenarnya kata Language dalam bahasa Inggris meliputi baik langage maupun langue dalam bahasa Perancis. Namun demikian, parole merupakan objek kongkrit linguistik, langue merupakan objek yang sudah lebih abstrak, sedangkan langage merupakan objek yang paling abstrak.
Sebenarnya ada beberapa ilmu yang berhubungan dengan linguistik terapan sebagai objek kajiannya, antara lain:
1)      Linguistik terapan atau ilmu-ilmu tentang aspek-aspek bahasa; dan dalam hal ini bahasa digunakan dalam arti harfiyah. Inilah yang disebut pure linguistik atau linguistik murni.
2)      Ilmu-ilmu tentang bahasa; dan dalam hal ini, istilah bahasa digunakan dalam arti metaforis atau kiasan. Contoh ilmu yang termasuk kategori ini adalah kinesik dan paralinguistik. Kinesik adalah ilmu tentang gerak tubuh/kial/ body language, seperti anggukan kepala, isyarat tangan dan lain-lain. Paralinguistik adalah ilmu yang memusatkan perhatiannya pada aktifitas-aktifitas tertentu yang mengiringi pengucapan bahasa, seperti desah nafas, decak, ketawa, batuk-batuk kecil, bentuk-bentuk tegun seperti ehm, anu, apa itu, apa ya dan lain sebagainya.
3)      Ilmu tentang pendapat-pendapat mengenai bahasa. Contohnya metalinguistik, yakni ilmu yang membicarakan seluk beluk “bahasa” yang dipakai untuk menerangkan bahasa yang tercermin dalam istilah studi teori linguistik, studi metode linguistik dan lain-lain.
4)      Ilmu-ilmu mengenai ilmu bahasa. Yang termasuk kategori ini adalah studi-studi yang mengkhususkan dirinya pada ilmu linguistik itu sendiri, sperti studi tentang sejarah perjalanan ilmu linguistik, studi linguistik pada abad ke dua puluh dan lain-lain.
Dari keempat jenis ilmu tersebut di atas, maka hanya nomor (1) saja yang bisa disebut sebagai ilmu linguistik yang murni karena objeknya bahasa yang benar-benar bahasa, sedangkan objek keatiga ilmu lainnya bukanlah bahasa dalam pengertian sehari-hari .
Bahasa yang menjadi objek linguistik terapan dipelajari dari berbagai aspeknya atau tatarannya. Tataran bahasa itu meliputi aspek bunyi, morfem dan kata, frase dan kalimat serta aspek makna.
Cabang linguistik yang mempelajari aspek bunyi bahasa adalah fonologi. Tataran morfem atau kata dipelajari dalam morfologi. Tataran frase/kalimat dibahas dalam sintaksis. Sedangkan aspek makna bahasa dipelajari dalam ilmu tersendiri yang disebut semantik.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cabang-cabang linguistik ditinjau dari tatarannya terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Berpijak pada apa yang telah dikemukakan oleh Ramelan tersebut di atas, maka jelaslah bahwa objek kajian linguistik adalah bahasa.
Istilah bahasa memang sering disalahfahami oleh orang. Sebagian orang menganggap bahasa mencakup semua sarana yang bisa digunakan sebagai alat komunikasi seperti tulisan, isyarat, gerakan tangan dan bibir yang digunakan oleh kelompok orang tuli dan bisu dan lain-lain.
Oleh karena itu perlu ada definisi yang jelas mengenai bahasa yang menjadi objek kajian linguistik. Dalam ilmu linguistik bahasa juga diartikan sebagai alat komuniasi yang dengannya pesan dapat tersampaikan. Namun demikian, ada perbedaan antara bahasa dengan alat komunikasi yang lain berkaitan dengan medianya.
Sebagai contoh, dalam tulisan, medianya adalah simbol-simbol tertulis, dalam isyarat medianya adalah gerakan tubuh. Sedangkan dalam bahasa, media yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bunyi-bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat organ manusia.
Oleh karena itu, dalam perspektif ilmu linguistik, sistim atau alat komunikasi lain yang tidak menggunakan bunyi ujaran sebagai medianya tidak termasuk bidang kajian linguistik. Dari sini jelaslah bahwa objek kajian linguistik adalah sistim bunyi yang terartikulasi dan digunakan oleh manusia dalam komunikasi antar mereka.
Linguistik terapan menggunakan metode ilmiah seperti metode induktif dan deduktif dalam meneliti bahasa. Metode induktif digunakan dalam menyusun generalisasi dari hasil penelitian yang diambil dari observasi-observasi yang mendalam.
Sedangkan metode deduktif digunakan pada saat seorang linguis ingin menguji validitas atas teori atau hukum yang telah mapan sebelum ia melakukan penelitian.
Ciri ilmu yang terakhir adalah bahwa ilmu itu tidak bersifat statis tetapi dinamis. Kedinamisan linguistik ditandai dengan keterbukaannya terhadap perubahan terutama jika ada data tambahan atau penemuan baru yang menolak teori-teori sebelumnya. Linguistik adalah ilmu yang selalu tumbuh dan berkembang serta senantiasa memperhatikan temuan-temuan baru.
Ini berarti mereka yang menyebut dirinya seorang linguis harus bersikap terbuka dan senantiasa menerima kebenaran-kebenaran baru dari hasil penelitian kebahasaan yang ada. Ketika seorang linguis meneliti bahasa dan membuat kesimpulan atas penelitiannya, ia tidak boleh menganggap kesimpulannya sebagai kebenaran final. Apa yang benar pada saat tertentu belum tentu dianggap benar pada saat yang lain akibat adanya bukti atau data yang baru yang menggugurkannya.
Dengan demikian pencarian kebenaran ilmiah merupakan suatu proses yang tidak akan pernah berhenti, dan inilah kekuatan sebuah ilmu yang akan selalu mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan.



LINGUISTIK TERAPAN DAN GURU BAHASA
linguistik terapan merupakan subdisiplin linguistik yang diarahkan untuk tujuan praktis, antara lain diterapkan dalam pengajaran bahasa.
Apabila berbicara mengenai pengajaran bahasa, tentu peranan guru tidak dapat diabaikan. Disadari banyak faktor yang turut menentukan keberhasilan
pengajaran bahasa, tetapi apapun alasannya peranan guru sangat menentukan. Oleh sebab itu, perlu ada pembahasan khusus yang membicarakan hubungan linguistik terapan dengan guru bahasa.

Terdapat beberapa pengertian mengenai linguistik yang dirumuskan oleh para ahli bahasa.
Wals menjelaskan bahwa linguistik terapan adalah penggunaan
temuan ahli bahasa oleh guru bahasa.
            Hartman dan Stork (1972) menjelaskan bahwa linguistik terapan adalah teori linguistik yang digunakan untuk tujuan praktis.
            Corder (1973) menjelaskan bahwa linguistik terapan adalah pemanfaatan pengetahuan tentang alamiah bahasa yang dihasilkan oleh peneliti bahasa untuk keberhasilan tugas.
Tugas utama guru bahasa adalah berusaha agar anak didik menjadi tuntas dalam belajar bahasa. Tugas guru mengajarkan bahasa, bukan mengajarkan teori bahasa, akan tetapi mengajarkan anak didik terampil dalam menggunakan bahasa.
Tugas guru bahasa dan tugas ahli bahasa memang berbeda untuk membedakannya.
 perhatikan dua skema berikut:
Pada skema I,terlihat pekerjaan guru bahasa, yaitu mengajarkan bahasa tertentu. Untuk mengajarkan bahasa tertentu, guru bahasa melaksanakannya melalui pengajaran pokok bahasan tertentu. Untuk mengajarkan bahan itu, guru bahasa harus mempunyai wawasan linguistic, dalam hal ini linguistik terapan. Berhubung banyak teori kebahasaan dalam teori linguistik, maka guru harus pandai memilih teori yang lebih bermakna. Tujuan pekerjaan itu, yakni anak didik menjadi tuntas dalam belajar bahasa.

Pada skema II,terlihat pekerjaan ahli bahasa, yakni meneliti bahasa, lalu menganalisisnya, mengambil kesimpulan, dan melaporkan hasil penelitian itu dalam bentuk perian bahasa. Pekerjaan itu ditujukan untuk pengembangan teori linguistik, ditujukan untuk kepentingan bahasa tertentu, dan hasilnya ditujukan kepadailmuwan atau praktisi kebahasaan, misalnya guru bahasa.
Apabila dihubungkan dengan pendapatBell(1987) terdapat tiga perbedaan antara ahli bahasa dengan guru bahasa. Perbedaan pertama terdapat pada tujuan:
ahli bahasa bertujuan menjelaskan fenomena bahasa yang bersifat alamiah, sedangkan guru bahasa bertujuan membimbing anak didik agar tuntas dalam belajar bahasa.
            Perbedaan kedua menyangkut metode: ahli bahasa menggunakan metode yang bersifat abstrak dan formal, sedangkan guru bahasa menggunakan metode yang bersifat fungsional dan praktis. Perbedaan yang ketiga menyangkut sikap: ahli bahasa bersikap bahwa bahasa yang dihadapi memiliki sistem, baik dalam bentuk maupun makna, sedangkan guru bahasa bersikap bahwa bahasa seperangkat keterampilan.
            Stevick(1982) berpendapat bahwa tugas guru bahasa meliputi tiga hal, yaitu mengembangkan kompetensi komunikasi, mengembangkan kompetensi linguistik, mengembangkan kompetensi personal.
Howard dalam James(1981) menguraikan kriteria guru bahasa sebagai berikut;
a)Menguasai semua metode mengajarkan bahasa dan dapat menerapkan metode itu dalam proses belajar mengajar,
b)Menguasai bahan yang akan dan sedang diajarkan,
c)Melaksanakan semua kegiatan sekolah, misalnya melaksanakan ujian,
d)Menguasai semua jenis dan prosedur penilaian,
e)Menguasai semua tipe latihan berbahasa,
f)Menguasai pengelolaan kelas, misalnya dapat mengatasi keributan,
g)Menguasai teknik pengajaran individual,
h)Dapat menentukan dan menguasai silabi pelajaran,
i)Dapat memanfaatkan media pengajaran,
j)Menguasai tujuan pengajaran dan aktivitas untuk mencapai tujuan itu,
k)Menguasai teknik-teknik pendidikan.
            Peranan Linguistik dalam Pekerjaan Guru Bahasa
Dikaitkan dengan tugas-tugas guru bahasa yang telah diuraikan di atas, secara ideal seorang guru bahasa adalah seorang ahli bahasa, peneliti bahasa, dan penulis bahan pelajaran kebahasaan. Dia juga harus selalu mendalami dan mengikuti perkembangan ilmu yang diajarkannya. Dari harapan-harapan ideal ini, seorang guru bahasa harus menguasai linguistik. Dengan demikian seorang guru bahasa dapat mengajarkan aspek bahasa tertentu sehingga anak didik dengan mudah menguasai bahan yang diajarkan.
Seorang guru bahasa seharusnya menguasai linguistik apabila dia ingin menjadi guru yang baik. Guru harus menguasai fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan ilmu-ilmu sekerabat dengan linguistik, misalnya sosiolinguistik dan psikolinguistik. Tentu saja pengetahuan linguistik bagi seorang guru bahasa lebih bersifat praktis
dalam arti membentengi dirinya agar dapat menjelaskan gejala
bahasa yang diajarkannya.Seorang guru bahasa tidak boleh hanya mengajarkan kaidah bahasa. Kaidah bahasa dapat diajarkan untuk menuntun pola penggunaan bahasa ketika anak didik berkomunikasi. Guru sebaiknya memahami bagaimana agar kaidah bahasa yang dianalisis berdasarkan konsep linguistik dapat menampakkan diri di
dalam pemakaian bahasa anak didik. Hal itu perlu ditekankan karena guru bahasa tidak mengajarkan anak didik menjadi ahli bahasa, tetapi berusaha agar anak didik mahir berbahasa.

Kegunaan Teori Linguistik Bagi Guru Bahasa
Linguistik memiliki kegunaan bagi seorang guru bahasa. Kegunaan tersebut adalah
(1) kegunaan untuk peningkatan mutu profesi,
 (2) kegunaan secara teoretis, dan
(3) kegunaan secara praktis.

Kegunaan untuk Peningkatan Mutu Profesi
Bagi seorang guru bahasa, linguistik berfungsi sebagai peningkat profesi guru bahasa dalam hal pengetahuan dan keterampilan. Hal ini karena linguistik adalah ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek pembahasan, sedangkan dalam pengajaran bahasa, bahasa adalah hal yang diajarkan.Seandainya guru bahasa memahami wujud bahasa, hakikat bahasa, karakteristik bahasa, tataran dalam bahasa, dan teori bahasa, tentu guru bahasa yang bersangkutan akan melaksanakan tugasnya dengan lebih baik jika dibandingkan dengan seorang guru bahasa yang tidak mengetahui teori linguistik.
Kegunaan Secara Teoretis
Setiap bidang keilmuan senantiasa mengalami perkembangan. Demikian juga yang terjadi dengan ilmu linguistik. Ilmu linguistik hingga saat ini (2013) telah mengalami berbagai perkembangan, di antaranya adalah terlahir subdisiplin-subdisiplin ilmu linguistik, misalnya neurolinguistik. Perkembangan semacam ini harus diikuti oleh seorang guru bahasa karena profesinya berkaitan erat dengan
linguistik. Oleh sebab itu seorang guru bahasa harus selalu mengaktualisasi diri dengan berbagai perkembangan ilmu linguistik.
Sebagai seorang guru bahasa yang mendalami bidang studinya, dia selalu bertanya “apakah teori kebahasaan yang diketahuinya masih cocok dengan perkembangan ilmu tersebut?”
Sebagai seorang pemburu ilmu, dia harus bertanya
“apakah sudah pendapat baru yang berkaitan dengan bahan yang diajarkannya?”
hal ini akan memberikan stimulus pada seorang guru untuk senantiasa memperbaharui pengetahuannya.Jelaslah betapa pentingnya teori linguistik itu bagi seorang guru bahasa.
Tetapi perlu juga diingatkan bahwa pengetahuan tentang teori linguistik belum cukup bagi seorang guru bahasa. Sebab jikademikian penampilannya, maka guru bahasa akan sama dengan seorang ahli bahasa. Seorang guru bahasa, selain dia harus
memahami teori linguistik, dia harus meningkatkan profesinya dengan jalan mendalami ilmu pendidikan dan keguruan. Sebab betapapun ahlinya guru bahasa dalam bidang linguistik, tetapi kalau dia sendiri tidak mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna, maka usahanya akan gagal. Guru hanya akan lebih banyak berceramah, berteori, dan akan kurang
berhasil mengubah tingkah laku berbahasa anak didik. Seorang guru bahasa harus berwawasan luas, baik dalam bidang studi
yang diajarkannya, ilmu kependidikan, dan ilmu lain yang akan turut menunjang proses belajar mengajar.

Kegunaan Secara Praktis
Seorang guru bahasa tidak boleh merasa puas dengan keberhasilan yang ada pada dirinya. Hal ini karena seorang guru bahasa tidak bertugas dengan menghadapi berkas-berkas atau benda mati, tetapi berhadapan dengan manusia yang kreatif, berpotensi, dan dinamis, baik anak didik maupun masyarakat.












Jumat, 06 Mei 2016



semantics

Semantics is the study of the meaning of linguistic expressions. The language can be a natural language, such as English or Navajo, or an artificial language, like a computer programming language. Meaning in natural languages is mainly studied by linguists. In fact, semantics is one of the main branches of contemporary linguistics. Theoretical computer scientists and logicians think about artificial languages. In some areas of computer science, these divisions are crossed. In machine translation, for instance, computer scientists may want to relate natural language texts to abstract representations of their meanings; to do this, they have to design artificial languages for representing meanings.

Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna / arti yang terkandung dalam bahasa, kode, atau jenis lain dari representasi. Dengan kata lain, semantik adalah studi tentang makna. Semantik biasanya berhubungan dengan dua aspek lain: sintaks, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, dan pragmatis, penggunaan praktis simbol oleh rakyat dalam konteks tertentu.



Leksikologi
Leksikologi (dari bahasa Yunani: lexiko-, "leksikon") adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari kata, sifat dan makna, unsur, hubungan antarkata (semantis), kelompok kata, serta keseluruhan leksikon. Ilmu ini terkait erat dengan leksikografi yang juga mempelajari kata, terutama dalam kaitannya dengan penyusunan kamus. Secara sederhana, leksikografi disebut sebagai penerapan praktis dari leksikologi.
               Lexicology ( from the Greek : lexiko- , " lexicon " ) is the branch of linguistics that studies word, the nature and meaning , the elements , the relationship between words ( semantic ) , group of words , as well as the whole lexicon . This science is closely related to lexicography is also studying the word , especially in relation to the preparation of dictionaries . Simply put , lexicography is referred to as the practical application of lexicology .